Jul 31, 2014

Selamat Idul Fitri :)



Selamat Idul Fitri untuk teman-teman yang merayakan. Semoga Allah SWT menerima amalan saya dan amalan teman-teman semua :)
Read more >>

Jul 17, 2014

Wisata Alam Seru di Jendela Alam

Udah sejak lama eninnya Jav yang di Cimahi ingin mengajak Jav naik kuda, ke kebun binatang atau ke Lembang. Saya sih mau aja. Tapi setiap diajak, malah ayahnya Jav yang selalu berhalangan. Makanya saya bertekad untuk mengajak main eninnya Jav sebelum masuk bulan Ramadhan.

Tapi malas juga kalau ke kebun binatang. Selain karena Jav udah pernah ke sana, juga karena kondisinya yang gersang (dua tahun yang lalu sih, enggak tau kalau sekarang). Browsing tempat wisata di daerah Bandung Utara, akhirnya ketemu Jendela Alam. Tempatnya berada di Jl. Sersan Bajuri. Di sana, anak-anak bisa belajar memanen sayuran dan memberi makan hewan. Sepertinya bakal seru.

Karena bukanya pukul delapan pagi, saya dan suami udah berangkat dari rumah pukul setengah tujuh. Rencananya sampai di Cimahi pukul tujuh dan langsung berangkat lagi. Maksudnya supaya sampai di Jendela Alam pas pukul delapan, jadi matahari belum terlalu terik.

Ternyata setelah sampai Cimahi, eninnya Jav belum siap. Bahkan beliau masih sibuk memasak di dapur. Namanya ibu-ibu, pasti ingin aja menyediakan sarapan untuk anak-cucunya. Beliau mungkin lupa kalau saya juga ibu-ibu yang enggak mungkin membiarkan suami dan anak saya pergi ke luar rumah sebelum makan :p Rencana tinggal rencana, akhirnya kami baru berangkat pukul sembilan. Apalagi Maulana (mang kecilnya Jav) juga mau ikut, jadi menunggu Maulana siap dulu. Hore, Jav jadi ada temannya.

Enaknya berangkat dari Cimahi, kami enggak perlu merasakan macetnya Jl. Setiabudi dan Ledeng. Rutenya yaitu melalui Kolonel Masturi-Ciwaruga-Cihideung. Waktu tempuhnya kurang lebih empat puluh lima menit, karena kondisi jalannya enggak mulus.

Bagian depan Jendela Alam (Dok. Pribadi)
Sampai di Jendela Alam, sudah banyak mobil yang parkir. Khawatir di dalam udah crowded, tapi ternyata enggak kok. Di pintu masuk, selain membeli tiket masuk seharga Rp 15.000 per orang, kami juga ditawari berbagai tiket lainnya. Di sini, playground memang gratis, tapi untuk wahana lainnya dikenakan biaya lagi. Untungnya, enggak mahal. Rata-rata Rp 15.000 per anak, orang tua yang mendampingi sih gratis. Akhirnya kami membeli tiket menunggang kuda poni, feeding animal, dan menangkap ikan.

Wahana yang dicoba pertama kali yaitu menunggang kuda poni. Awalnya Jav agak takut, enggak mau naik sendiri. Tapi enggak mungkin kan ayahnya ikut naik, kasihan kudanya :p Untungnya setelah ditemani jalan beberapa meter, dia malah doyan. Yang enggak mau sama sekali justru Maulana. Setelah membujuk mang yang memandu kudanya, akhirnya boleh deh naik berdua. Jadi Jav naik lagi menemani Maulana hihihi….

Menunggang kuda poni (Dok. Pribadi)
Selesai menunggang kuda, langsung lanjut mencoba feeding animal. Ternyata ada fasilitator yang memandu Jav dan Maulana. Sebelum memberi makan hewan, mereka diberi keranjang kosong, lalu diajak ke kebun wortel untuk memanen wortel. Asyik, seperti Masha and the Bear nih, hihihi.... Akang fasilitatornya memberi tau, tanaman wortel yang bisa dipanen yaitu yang batangnya udah cukup besar.

Serunya memanen wortel (Dok. Pribadi)
Setelah dipanen, wortelnya enggak langsung diberi ke hewan, tapi dicuci dulu supaya wortelnya bersih dan hewannya enggak sakit perut hohoho…. Akang fasilitatornya mengajarkan bagaimana cara mencucinya. Kalau udah melibatkan air begini sih, Jav senang :p

Wortelnya dicuci dulu (Dok. Pribadi)
Nah, setelah selesai mencuci wortel, baru deh keliling. Ada lima jenis hewan yang akan diberi makan wortel oleh anak-anak. Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu kandang rusa. Akang fasilitator membimbing anak-anak untuk memberi makan rusa totol. Seperti biasa, Jav awalnya ragu, tapi setelah tau bahwa rusanya baik, dia malah sampai mengelus-elus rusanya. Sayang, enggak bisa lama-lama di sini, karena keburu ramai oleh rombongan dari Korea.

Memberi makan rusa totol (Dok. Pribadi)
Tempat selanjutnya yaitu kandang kelinci. Ada yang bulunya berwarna putih, cokelat, hitam, dan belang. Tetapi yang hitam enggak mau diberi makan, dia diam aja di pojok kandang. Kata Jav "Kelincinya lagi marah," heuheu…. Jav bukan hanya senang memberi makan kelinci, tapi juga gemas melihat hamster yang kandangnya berada satu ruangan dengan kandang kelinci.

Memberi makan kelinci (Dok. Pribadi)
Terus berjalan ke belakang, akhirnya kami sampai di kandang anak sapi. Di sini Jav enggak mau memberi makan. Mungkin karena warna sapinya yang hitam. Enggak lucu seperti sapi-sapi yang sering dia lihat di kemasan susu UHT :p

Anak sapinya hitam (Dok. Pribadi)
Lanjut lagi ke kandang kambing etawa. Di sini sikap Jav semakin enggak kondusif. Lari-lari ke sana ke mari. Ayahnya aja lah yang memberi makan.

Memberi makan kambing etawa (Dok. Pribadi)
Terakhir, kami sampai di kandang kuda poni. Di sini, Maulana yang paling semangat memberi makan. Jav sih bukannya semangat memberi makan kuda poni, tapi malah semangat ingin masuk ke dalam kandang *elus dada*.

Memberi makan kuda poni (Dok. Pribadi)
Selesai deh acara feeding animal-nya *dadah-dadah sama akang fasilitator*. Kami terus lanjut masuk ke rumah reptil. Ada ular, buaya, kadal, dan lain-lain. Sebenarnya saya enggak betah lama-lama berada di sini, merinding. Tapi karena tempatnya adem, jadi lumayan lah bisa sekalian istirahat juga. Apalagi meskipun di luar lingkungannya asri dan udaranya cukup sejuk, namun matahari dengan gagahnya berada tepat di atas kepala.

Penghuni rumah reptil (Dok. Pribadi)
Setelah merasa agak segar, lanjut lagi ke wahana menangkap ikan. Untungnya di sini juga adem karena ada atapnya. Jav dan Maulana betah sekali di sini. Kasihan sih sama ikan-ikannya. Tapi enggak apa-apa lah ya sekali-kali ini, kan bagus untuk melatih motorik anak :D Ikan-ikan yang udah ditangkap sebenarnya bisa dibawa pulang, tapi enggak deh. Kasihan, bisa-bisa mati di jalan.

Serius menangkap ikan (Dok. Pribadi)
Enggak terasa udah pukul dua belas lagi. Anak-anak udah lapar. Oke, saya bohong. Saya yang udah lapar hihihi…. Waktunya keluar dan mencari tempat makan. Padahal masih banyak hal lain bisa kami lakukan di sini, seperti memanen strawberi, tomat, kangkung, jamur, dan telur ayam. Ada labu raksasa dan tumbuhan obat-obatan juga. Lumayan banyak juga koleksi hewan dan tumbuhan di sini, dilengkapi dengan papan keterangan yang menambah wawasan para pengunjung.

Bebek, angsa, ayam, dan kucing di Jendela Alam (Dok. Pribadi)
Eh, sebelum sampai di pintu keluar, Jav dan Maulana malah asyik main di playground. Enggak apa-apa deh, kami tunggu dulu mereka main ayunan dan jungkat-jungkit sebentar.

Namanya anak-anak, belum puas kalau belum main (Dok. Pribadi)
Yang unik nih, di pintu keluar, kami bisa menukarkan tiket masuk dengan suvenir. Pilihannya ada bibit kangkung, bibit bayam merah, dan telur ayam arab. Kemasan bibitnya dilengkapi dengan keterangan cara menyemai bibit tersebut. Sayang, saat itu telur ayam arabnya sedang kosong. 

Bibit kangkung dan bibit bayam merah (Dok. Pribadi)
Oiya, saya baru ingat. Waktu ke sini, ada rombongan anak TK juga. Memang tempat ini cocok juga untuk acara field trip anak-anak sekolah. Karena selain berisi wisata edukasi dan permainan, ternyata di sini juga ada workshop-nya. Seperti membuat yoghurt, menghias layang-layang, membuat bio gas, komposting, dan lain-lain. Keren ya :)

Informasi tentang Jendela Alam (Dok. Pribadi)
~~~

Jendela Alam
Jl. Sersan Bajuri Km 4.5 Cihideung
Telepon 022-2788482
http://www.jendela-alam.com
Jam buka:
Senin-Jumat 09.00 - 16.00
Sabtu-Minggu dan Hari libur 08.00 - 16.00
Tiket masuk:
Senin-Jumat Rp 10.000
Sabtu-Minggu dan Hari libur Rp 15.000

Read more >>

Jul 13, 2014

Hapus Stigma dan Diskriminasi terhadap Pasien TB

Berikut beberapa kasus diskriminasi pada pasien TB di Indonesia:
  • Yulinda Santosa (mantan pasien TB-MDR) pernah dikucilkan dan mendapat perlakukan diskriminatif dari teman-teman dan keluarganya. Bahkan, dia juga pernah diusir dari rumah kosnya. “Gelas dan piring saya sengaja dipisahkan. Setiap berbicara dengan orang lain, mereka menutup hidung. Saya dianggap penyebar penyakit.” (Sumber)
  • Setelah lulus beberapa kali tes penyaringan, Ben kehilangan kesempatan bekerja di perusahaan idamannya karena pada saat tes kesehatan, hasil rontgen menunjukkan terdapat luka TB di paru-parunya. (Sumber)
  • Jumiran ditemukan tergeletak tak bernyawa di toilet umum Pelabuhan. "Saat dimintai KTP, Jumiran juga melampirkan surat keterangan dari Puskesmas yang menyatakan jika dirinya menderita penyakit TB. Hal inilah yang membuat petugas melarang Jumiran untuk berlayar dengan kapal." (Sumber)
  • Seorang teman mengeluh di sebuah grup media sosial karena dokter menyebutkan bahwa anaknya menderita TB. "Kami dari keluarga berada, semuanya sehat. Bagaimana mungkin anak saya bisa terkena TB?" (Pengalaman pribadi)
  • Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tribowo Tuahta Ginting di RS Persahabatan, didapatkan kesimpulan bahwa pasien TB tidak ingin penyakitnya diketahui oleh orang lain, karena khawatir mendapatkan perlakuan diskriminatif dari masyarakat. (Sumber)
Kasus-kasus di atas terjadi karena stigma tentang penyakit TB yang terlanjur berkembang di masyarakat. Bahwa TB merupakan penyakit menular yang tidak dapat disembuhkan, bahwa penyakit TB hanya dapat menimpa orang-orang miskin, bahwa TB merupakan penyakit turunan, dan lain-lain. Stigma tersebut menghasilkan sikap diskriminatif pada pasien TB. Bisa berupa pengusiran, pengasingan, penolakan pelayanan di fasilitas umum, penolakan saat melamar pekerjaan atau beasiswa, dan sebagainya. Bahkan, di Cina, seorang narapidana penderita TB yang telah beberapa kali ditangkap, selalu dilepaskan lagi karena penjara selalu menolaknya.

Diskriminasi terhadap penderita TB dapat menyebabkan mereka malu atau enggan memeriksakan dirinya saat merasakan gejala-gejala penyakit TB, karena khawatir akan mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari lingkungan di sekitarnya. Hal ini tentu saja akan menghambat proses pengobatan serta meningkatkan resiko penularan.

Stigma merupakan label negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungan. Jadi, bukan pribadi seseorangnya yang negatif, melainkan pandangan lingkungannya. Dalam kasus penderita TB, stigma tersebut muncul karena adanya informasi yang salah tentang penyakit TB.

Ilustrasi oleh penulis
Untuk mendukung keberhasilan penanganan TB, stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB harus dihilangkan. Yaitu dengan meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang penyakit TB selama ini.
  • TB merupakan penyakit turunan. Salah. TB bukan penyakit turunan, apalagi penyakit kutukan atau penyakit karena guna-guna. Penyakit TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
  • TB merupakan penyakit orang miskin. Salah. Sebagian besar kasus TB memang terjadi di wilayah dengan penduduk miskin, karena terkait dengan pola hidup dan tingkat kesehatan di lingkungan tersebut. Namun bukan berarti penyakit TB hanya dapat menimpa orang-orang miskin. Proses penularan TB begitu mudah, yaitu melalui udara yang tercemar kuman TB dari percikan dahak penderita TB. Karena itu, penyakit TB dapat mengenai siapa saja. Terutama apabila daya tahan tubuh orang tersebut sedang lemah.
  • TB merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Salah. Penyakit TB memang menular bahkan mematikan. Tetapi penyakit TB bisa disembuhkan asalkan pasien TB menjalani pengobatan secara teratur dengan jenis, dosis, dan jangka waktu pemberian obat yang tepat.
Selama pasien TB menjaga diri untuk tidak menularkan penyakitnya (yaitu menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, membuang dahak dengan air yang mengalir, serta konsisten menggunakan masker), juga menjalani pengobatan secara teratur, maka masyarakat tidak berhak untuk mengucilkan mereka. Bayangkan, menderita sakit dan menjalani pengobatan saja sudah cukup berat bagi pasien TB. Jangan sampai mereka harus menanggung beban mental juga akibat stigma dan diskriminasi tersebut.

Dengan adanya kemudahan akses terhadap informasi, diharapkan terjadi perubahan pandangan tentang penyakit TB sehingga tidak ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB. Kita sudah sepantasnya ikut membantu menghapus stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB dengan:
  • Learn. Mari mencari informasi yang benar dan belajar sebanyak-banyaknya mengenai seluk beluk penyakit TB. Mulai dari penyebabnya, gejalanya, penularannya, hingga pengobatannya. 
  • Share. Mari sebarkan informasi tentang penyakit TB yang sudah kita pelajari, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Luruskan berbagai stigma tentang penyakit TB. Tunjukkan mana yang mitos dan mana yang fakta.
  • Action. Mari berbuat lebih jauh dengan melakukan tindakan langsung turun ke lapangan dan menjadi kader TB. Temukan penderita TB dan ajak mereka untuk melakukan pengobatan. Dukung mereka dan berikan informasi yang benar di lingkungannya tentang penyakit TB
Ilustrasi oleh penulis
Dengan usaha-usaha tersebut, diharapkan tidak ada lagi informasi yang salah mengenai penyakit TB, sehingga stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB pun tidak terjadi lagi. Semoga dengan begitu, penderita TB tidak ragu lagi untuk memeriksakan dirinya apabila mengalami gejala-gejala penyakit TB. Untuk Indonesia yang lebih sehat :)

~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition: Temukan dan Sembuhkan Pasien TB
(Serial #8: Stigma dan Diskriminasi Terhadap Pasien TB)


Read more >>

Jul 12, 2014

My Silly Moment: Angkot yang Tertukar

Waktu kuliah tingkat 1 (masa TPB alias Tahap Persiapan Bersama), saya sering diledek lola (loading lama) atau lemot (lemah otak) karena respon saya yang suka agak lama kalau dibercandain. Mikir dulu, ini bercanda atau serius sih? Heuheu…. Sakit hati? Enggak lah. Anggap aja itu sebagai bentuk perhatian mereka pada saya :D Untungnya setelah tingkat 2 (mulai kuliah di jurusan), julukan tersebut tidak lagi menempel di saya, karena ternyata ada teman yang lebih lola dari saya hohoho…. Jangan sampai deh teman-teman kuliah mengetahui cerita ini. Bisa-bisa julukan tersebut kembali pada saya hihihi….

Jadi, waktu itu, saya dan seorang teman SMA baru pulang dari hangout (cie hangout) di BIP, mal paling tua di Kota Bandung. Lokasi tempat kerja kami yang cukup berdekatan memang membuat kami sering nonton, belanja, atau sekedar ngobrol sambil makan setelah pulang kerja. Biasanya enggak lama-lama, soalnya rumah kami sama-sama jauh dari pusat kota.

Walaupun sama-sama jauh, tapi rumah kami berada di arah yang berbeda. Dari depan BIP di Jl. Merdeka, saya naik angkot (angkutan kota) yang menuju ke arah Kebon Kalapa, warnanya hijau daun dengan garis warna oranye. Sedangkan teman saya naik angkot yang menuju ke arah Stasiun, warnanya juga sama-sama hijau daun dengan garis warna oranye. Yang membedakan hanya tulisan di jendela dan posisi garis oranyenya. Angkot jurusan Dago-Kebon Kalapa, garis oranyenya berada di bawah. Sedangkan angkot jurusan Dago-Stasiun, garis oranyenya berada di tengah. Setelah cipika-cipiki (cium pipi kanan - cium pipi kiri) dan dadah-dadahan, teman saya lebih dulu naik angkot Dago-Stasiun. Saya pun menyusul naik angkot di belakangnya.

Angkot yang saya tumpangi jalan lebih dulu. Tapi ternyata, angkot jurusan Dago-Kebon Kalapa yang seharusnya belok ke kiri, malah lurus terus. Saya sempat kaget sebentar. Apalagi teman saya yang angkotnya menyusul angkot saya, menunjuk-nunjuk (enggak mungkin kan teriak-teriak) ke arah angkot saya. Saya pun menjawab dengan sebuah anggukan sambil tersenyum puas. Alhamdulillah, angkotnya ngambil jalan pintas, begitu pikir saya. Jam-jam segitu memang jamnya macet, dan angkot-angkot di Bandung memang paling hobi menggunakan jalan pintas untuk menghemat bensin dan waktu. Makanya saya seneng banget kalau ada supir angkot yang berinisiatif menggunakan jalan pintas. Lumayan bisa menghemat waktu perjalanan selama beberapa menit. Hari itu saya merasa sangat beruntung.

Tapi, tidak berapa lama kemudian, angkot yang saya tumpangi malah belok ke kanan. Loh, kalau mau ke Kelapa harusnya kan lurus dulu. Sebelum bertanya pada supir, saya langsung melirik tulisan di jendela. What? Angkot ini jurusan Dago-Stasiun? Salah naik angkot dong? Saya dapat merasakan wajah saya menghangat, warnanya pasti bersemu merah.

Sebelum dibawa ke arah yang salah terlalu jauh, saya pun segera turun. Dan ketika saya melihat ponsel, sudah ada sebuah missed call dan SMS dari teman saya yang berisi "Nath, angkotnya salah." Rasanya malu. Seumur hidup, baru kali ini saya salah naik angkot. Sebagai warga Bandung asli, saya merasa gagal. Bukan karena salah naik angkotnya, tapi karena dengan percaya dirinya mengira angkot yang saya tumpangi menggunakan jalan pintas hihihi….

Penampakan angkotnya (Sumber dari sini dan sini)
Nah, menurut teman-teman, apakah kejadian konyol sekaligus menggelikan ini karena saya memang lola? Menurut saya sih, karena saya orang yang selalu berbaik sangka dan selalu memandang hidup tanpa penuh kecurigaan *pembenaran* :p

~~~

Tulisan ini diikutkan dalam "The Silly Moment Giveaway" Nunu el Fasa dan HM Zwan.



Read more >>

Jul 11, 2014

#Honestly, Ini Live Tiles yang Gue Banget

Udah pada tau kan kalau saya sedang terpincut sama Nokia Lumia. Banyak fitur dan aplikasi keren yang hanya bisa didapatkan di Nokia Lumia. Tapi saya sih paling penasaran sama fitur Live Tiles-nya.

Dengan Live Tiles ini, semua notifikasi dari berbagai media sosial, situs berita, kontak, dan berbagai aplikasi lain yang sudah di-pin, akan muncul di homescreen. Jadi, semua update bisa langsung dilihat tanpa perlu membuka satu per satu aplikasinya. Asyiknya, fitur ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Ya aplikasi yang di-pin-nya, sampai ukuran dan warna tiles-nya.

Nokia Lumia 1520 (Sumber)
Walaupun Nokia Lumia belum sampai di tangan, tapi enggak apa-apa dong yah kalau saya berandai-andai aplikasi apa aja yang bakal saya pin hihihi....
  • Phone dan Messaging. Sepintar-pintarnya smartphone, fungsi utamanya ya tetap untuk menelepon dan mengirim pesan singkat :)
  • Yahoo! Mail. Penting banget untuk surat-menyurat.
  • Facebook dan Twitter. Saya memang jarang membuat update status ataupun nge-tweet. Tapi saya selalu menikmati mendapatkan berbagai informasi dari kedua media sosial tersebut, mulai dari berita atau pengetahuan yang bermanfaat, sampai curhat colongan hihihi…. Seru!
  • BBM dan Whatsapp. Dua aplikasi instant messaging ini asyik banget. Bukan hanya untuk mengobrol, tapi juga mengirim foto atau attachment lain tanpa ribet.
  • Evernote dan Blog. Saya enggak bisa berlama-lama menulis di depan laptop, karena pasti diganggu Jav. Makanya, dua aplikasi ini menjadi andalan saya untuk menulis draf dan mobile blogging.
  • Nokia Camera. Jangan sampai momen-momen pertumbuhan Jav yang berharga lewat begitu aja. Begitu juga dengan momen-momen narsis bersama keluarga atau teman :p
  • Google. Mau masak, tinggal cari resepnya di Google. Mau nyari dokter yang bagus, tinggal tanya sama Google. Mau tau review buku-buku inceran, tinggal minta tolong Google juga.
  • Nokia MixRadio. Ini aplikasi paling seru. Dengan aplikasi ini, saya bisa mendengarkan lagu-lagu favorit dan lagu-lagu terbaru secara gratis!
  • BCA Mobile. Saya ini hobi banget belanja online. Supaya acara belanjanya lancar, aplikasi ini harus mudah diakses dong. Selain itu, kalau ada honor nulis, lebih mudah nge-ceknya, hohoho….
  • Money Wallet. Untuk mencatat pengeluaran. Setiap ada transaksi, langsung input aja di ponsel. Cepat dan praktis :D
  • Last but not leastFamily Room. Merupakan salah satu fitur dari aplikasi People Hub. Dengan aplikasi ini, saya akan selalu menjadi yang pertama tau apabila ada update di media sosial dari orang-orang kesayangan saya: suami, orang tua, dan adik :)
Live Tiles versi saya (Sumber)
So, cukup dulu deh ya berandai-andainya. Semoga suatu saat nanti bisa kesampaian. Aamiin :)


~~~

Postingan ini diikutsertakan dalam #Honestly Gue Banget Giveaway.

Read more >>

Jul 9, 2014

#Honestly, Saya Kepingin Banget Nokia Lumia

Saat ini, ponsel tidak hanya dapat digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan. Ada banyak fungsi lainnya, makanya disebut smartphone. Apalagi dengan menjamurnya berbagai aplikasi media sosial seperti sekarang ini, komunikasi dan aliran informasi semakin lancar karena semua aplikasi media sosial bisa diakses melalui smartphone. Bahkan, beberapa pekerjaan pun bisa diselesaikan dengan menggunakan smartphone.

Dari waktu ke waktu, bukan hanya teknologi smartphone yang semakin canggih, pilihannya pun semakin beragam. Setiap saat, pasti ada saja smartphone baru yang diluncurkan. Semuanya memiliki kelebihan dan keunikan masing-masing. #Honestly, di antara berbagai pilihan tersebut, saya sih terpincut sama Nokia Lumia 1520. Kenapa? Ini beberapa alasannya.

Pertama,
#Honestly, beberapa tahun terakhir ini, lebih tepatnya semenjak melahirkan Jav, saya tidak terlalu peduli pada penampilan diri. Di sela-sela kesibukan sebagai ibu baru, bisa mandi satu kali sehari saja rasanya sudah bersyukur banget hihihi…. Pergi ke luar rumah, enggak pernah dandan, cukup menggunakan bedak dan lipgloss. Pakaian pun monoton,  enggak jauh dari celana jeans dan atasan dengan bukaan di bagian depan untuk menyusui. Enggak perlu membawa tas, cukup dompet dan smartphone, itupun menumpang di tas perlengkapannya Jav. Smartphone-nya biasa saja, warna hitam dan enggak ada keinginan untuk menggunakan casing yang lucu-lucu.

Sekarang, Jav sudah besar. Enggak ada alasan lagi dong buat saya untuk cuek terhadap penampilan. Saya sendiri juga sudah jenuh dengan penampilan saya yang begitu-begitu saja. Makanya saya pun mulai hunting baju-baju lucu dengan motif dan warna yang beragam. Saya juga mulai memperbaharui stok make-up, karena yang sebelumnya sudah kadaluarsa hihihi…. Dan sebagai pelengkap, saya ingin Nokia Lumia 1520. Selain bentuknya yang tipis dan desainnya yang stylish, pilihan warnanya juga kece banget. Dijamin penampilan saya bakal modis kalau menenteng smartphone ini.

Saya kepingin yang warna merah :) (Sumber)
Kedua,
Pssst…. Jangan bilang-bilang suami saya ya. #Honestly, saya suka kepo sama kegiatan dia. Enggak apa-apa lah ya, sama suami sendiri ini bukan sama mantan gebetan :p Sebenarnya, bukan kepo karena curiga atau enggak percaya, tapi lebih karena enggak ingin tertinggal dengan apa yang terjadi dalam kesehariannya.

Memang sih, suami saya jarang menulis tweet atau update status. Dia lebih senang check-in di tempat-tempat tertentu. Hal ini menguntungkan bagi saya, terutama ketika jadwalnya dia pergi atau pulang ke/dari luar kota. Saya selalu khawatir suami saya enggak sempat salat atau makan karena macet atau apa. Kalau menelepon atau mengirim pesan, takut mengganggu konsentrasinya yang sedang  menyetir. Makanya saya merasa tenang apabila melihat statusnya sedang check-in di rest area atau bahkan sudah sampai di gerbang tol Bandung. Setelah mengetahui posisinya sedang berada di mana, baru deh saya telepon suami. Kadang, repot juga sih, setiap mau menelepon harus membuka aplikasi media sosial dulu.

Nah, kalau pakai Nokia Lumia, saya bisa memanfaatkan fitur Live Tiles. Dengan fitur tersebut, saya bisa mengetahui update terbaru dari berbagai aplikasi favorit tanpa perlu membuka satu per satu aplikasinya, karena sudah muncul di homescreen. Apalagi dengan adanya aplikasi People Hub, saya bisa mengetahui update terbaru dari berbagai media sosial yang terkait dengan semua kontak yang berada dalam daftar di phonebook. Dengan mem-pin kontak suami, maka fitur Live Tiles otomatis akan memperlihatkan update media sosial terbaru dari suami saya. Canggih ya….

Live Tiles yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing (Sumber)
Ketiga,
Selama ini, saya selalu menggunakan smartphone untuk menulis draf artikel. Soalnya, saya enggak bisa berlama-lama menulis di depan laptop. Suasananya enggak mungkin kondusif karena pasti akan diganggu Jav. Sementara di malam hari, saat Jav sudah tidur, sayanya juga sudah mengantuk hihihi…. Makanya, saya lebih senang menulis di smartphone karena bisa menulis kapan pun dan di mana pun. Aplikasi-aplikasi apa saja untuk menunjang kegiatan tersebut, pernah saya tulis di sini.

#Honestly, akhir-akhir ini, kegiatan menulis saya agak terganggu karena baterai smartphone saya cepat sekali habis. Dalam sehari, baterainya hanya bisa bertahan tidak lebih dari 12 jam. Dan yang paling menyebalkan, butuh waktu 4 sampai 6 jam untuk mengisi kembali baterainya. Bayangkan, 6 jam!  Rasanya gemas sekali ketika sebuah ide muncul di kepala tetapi tidak bisa langsung dituangkan dalam bentuk tulisan, karena smartphone saya sedang tidak bisa digunakan.

Memang sudah saatnya saya mempunyai smartphone baru, hohoho…. Dan pengganti yang paling mantap ya Nokia Lumia ini, karena menggunakan sistem operasi Windows Phone 8, sehingga saya bisa menulis draf artikel langsung di Microsoft Word. Ditambah lagi dengan layarnya yang berukuran 6", menulis di smartphone pun akan terasa semakin nyaman.

Microsoft Office untuk keperluan pekerjaan (Sumber)
Keempat,
Saya senang mendengarkan musik. Saat menulis, saat sedang bete, saat menikmati me time, bahkan saat sedang memasak, rasanya menyenangkan bila sambil mendengarkan musik. Tetapi, #honestly, semenjak melahirkan Jav dan berhenti bekerja, akses saya terhadap lagu-lagu terbaru terasa sulit. Mau mendengarkan lagu-lagu terbaru di radio mobil pun enggak bisa karena sudah di-booking lagu-lagunya Jav :p Pengetahuan saya akan lagu-lagu terbaru, baru ter-update apabila ada acara ajang pencarian bakat menyanyi di televisi seperti Indonesian Idol atau X Factor. Kasihan sekali yah, hihihi.... 

Dengan menggunakan Nokia Lumia, saya bisa menikmati lagu-lagu favorit sampai lagu-lagu terbaru dari Nokia MixRadio. Gratis!

Lagu-lagu asyik di Nokia MixRadio (Sumber)
Kelima,
Saya senang sekali mencoba tempat makan atau tempat wisata baru. Sayangnya, #honestly saya tidak pernah hafal jalan. Prinsip saya sih, cukup tau perkiraan tempatnya saja. Nanti kalau sudah dekat, tinggal cari-cari lagi atau tanya-tanya pada orang-orang di sekitar. Sedangkan suami saya, selalu ingin mengetahui tempat pastinya. Dia paling malas kalau salah arah dan harus memutar balik.

Sebagai navigator, tugas saya untuk memastikan mobil kami tidak salah arah. Nah, dengan aplikasi HERE Drive+ dalam Nokia Lumia, saya akan dipandu belokan demi belokan hingga sampai di tempat tujuan. Enggak akan tersesat lagi deh :)

HERE Drive+, aplikasi navigasi yang paling akurat (Sumber)
Terakhir,
Saya juga senang mengabadikan berbagai momen dengan kamera smartphone. Baik momen pertumbuhan Jav, momen bersama keluarga, momen saat mencoba resep masakan baru, saat mencoba tempat makan baru, atau saat mencoba tempat wisata baru untuk dituliskan reportasenya di dalam blog.

#Honestly, kemampuan fotografi saya sangat pas-pasan. Semoga dengan menggunakan Nokia Lumia, kemampuan saya yang pas-pasan tersebut bisa dikoreksi. Karena smartphone ini mempunyai kamera utama PureView dengan sensor 20 MP. Selain itu, smartphone ini juga dilengkapi dengan Nokia Camera, juga berbagai aplikasi pengeditan foto seperti Creative Studio, Cinemagraph, Panorama, dan Nokia Storyteller.

Photo-editing dalam aplikasi Creative Studio (Sumber)
Bagaimana? Enggak salah kan pilihan saya? Nokia Lumia memang pas banget dengan semua kebutuhan saya :)

~~~


Read more >>

Jul 6, 2014

Rocky Bars: Penghibur Hati yang Lara

Dok. Pibadi

Lebay banget yah judulnya, hihihi….

Namanya manusia, walaupun udah berusaha berpikir positif, pasti ada aja masa-masanya ngerasa bete. Apalagi perempuan kalau pas waktunya datang bulan, perasaan jadi sensitif banget.

Jadi begini ceritanya. Hari Sabtu kemarin, rencananya paginya saya mau nyalon sama Mamah, terus sorenya mau ikut buka puasa bareng sama Kumpulan Emak Blogger Bandung. Semuanya sepaket sama Jav tentunya.

Taunya, pagi-pagi Jav diare. Enggak mungkinlah saya maksain ke salon, takut nanti di sana terjadi sesuatu yang enggak diinginkan. Meskipun berusaha untuk bersikap ceria dan enggak panik, di dalam hati terdalam sih tetap aja khawatir dan sedih. Untung di rumah lagi ada stok apel dan pisang. Sambil meluk Jav yang agak lemes, saya wanti-wanti terus supaya dia enggak usah iseng minum-minum air mentah. Iya, Jav suka iseng minum air mentah dari keran. Dia pikir kualitas air keran di negara Indonesia sama seperti di negara-negara bule kali yah, heuheu….

Menjelang siang, kondisinya membaik, udah lari-lari lagi, udah nyanyi-nyanyi lagi. Tapi tetep aja enggak tega ngajak Jav keluar malem-malem ikut acara buka puasa bersama. Akhirnya seharian itu, saya habiskan di rumah aja.

Daripada sedih dan bengong, saya pun berniat untuk bikin Chocolate Lava Cake. Kebetulan waktu terakhir makan itu di A&W, enggak puas. Keciiilll banget. Tapi saya baru inget, ramekinnya masih di rumah Mamah. Bekas saya ngirim Arseng resepnya Mbak Diah Didi buat menu takjil buka puasa hari sebelumnya. Gagal deh bikin Chocolate Lava Cake :(

Saya langsung move on.  Bikin Rocky Bars aja, meskipun dengan bahan seadanya. Resepnya masih nyontek dari Martha Stewart. Kenapa namanya Rocky Bars? Karena permukaannya seperti jalan berbatu.

Kalau biasanya saya suka sebel sama resep-resep bule karena takarannya selalu menggunakan cup, males harus konversiin dulu ke gram. Kali ini saya seneng, karena kebetulan timbangannya rusak dan belum sempat beli yang baru. Rusak gara-gara sama Jav jarum penunjuknya diputer-puter, sambil mulutnya ngeluarin suara ngegerung-gerung kaya mobil lagi digas. Jadi ceritanya, timbangan itu speedometer mobil :))

Siapa tau ada yang mau nyoba juga buat menu takjil buka puasa. Ini resepnya :)

Kurang berbatu, karena bahan taburannya kurang (Dok. Pribadi)
Bahan:
  • 1/2 cup unsalted butter
  • 2 1/4 cup tepung terigu
  • 2 1/4 sdt baking powder
  • 1 sdt garam
  • 1 1/2 cup gula palem (saya sih 1 cup aja)
  • 3 butir telur ayam
  • 1 sdt vanila
  • 1 cup marshmallow (lagi enggak ada)  1 cup semisweet chocolate, potong-potong
  • 1 cup white chocolate, potong-potong (lagi enggak ada)
  • 1 cup chocolate chips
  • 18 buah permen cokelat, potong-potong
Cara Membuat:
  • Panaskan oven.
  • Olesi loyang dengan butter (saya males oles-oles, langsung dilapis silpat aja).
  • Campurkan tepung, baking powder, dan garam.
  • Kocok butter dan gula.
  • Tambahkan telur dan vanila, aduk hingga tercampur rata.
  • Tambahkan campuran tepung.
  • Masukkan setengah bagian marshmallow, cokelat, chocolate chips, dan permen.
  • Tuangkan adonan ke dalam loyang.
  • Taburi dengan sisa marshmallow, cokelat, chocolate chips, dan permen.
  • Panggang di dalam oven hingga matang dan permukaannya berwarna cokelat keemasan.
  • Dinginkan.
  • Keluarkan dari loyang, lalu simpan di dalam kulkas.
  • Potong-potong sesuai selera.
Disajikan hangat bareng es krim vanila juga asyik (Dok. Pribadi)
Manis. Kebayang kan isinya cokelat semua. Tapi enggak giung. Lumayan lah, untuk penghibur hati yang lara hihihi….

Read more >>

Jul 3, 2014

Jav 3 Tahun 6 Bulan

Dok. Pribadi
  • Alhamdulillah.... Beberapa minggu ini udah tidur di kamar sendiri. Kadang bablas sampai pagi, kadang kebangun mau pipis, tapi kadang juga bisa bangun sampai tiga kali kalau lagi mimpi.
  • Akhir-akhir ini lagi seneng banget sama yang namanya gorengan. Ya enggak apa-apa sih, cuman jadi saingan deh sama bundanya :))
  • Udah bisa mandi dan sikat gigi sendiri, meskipun kadang masih harus dipandu.
  • Udah hafal Al-Fatihah, doa sebelum makan, doa sebelum tidur, doa untuk orang tua, meskipun lafalnya masih belum bener.
Read more >>

Jul 2, 2014

Kudet? #Honestly, Udah Enggak Zaman!

#Honestly, dulu waktu masih kuliah, saya selalu jadi orang paling kudet atau kurang up to date di kelompok studio. Kok bisa? Ya bisa. Jadi dulu itu semua informasi dari dosen, asisten, ataupun ketua kelompok studio, disebarkan melalui jarkom.

Pada tau jarkom enggak? Yang seangkatan saya, harusnya sih tau hihihi…. Jarkom itu singkatan dari jaringan komunikasi, semacam pesan berantai gitu. Jadi, ketua kelompok studio akan mengirim SMS seperti jadwal studio tambahan, atau jadwal presentasi, atau apapun ke beberapa orang ketua bidang. Lalu ketua bidang melanjutkan SMS tersebut ke salah satu anggotanya. Terus berlanjut hingga SMS sampai di anggota terakhir. Kalau enggak salah, waktu itu media sosial sih udah ada, tapi Friendster hihihi.... Jadi SMS memang menjadi media komunikasi paling efektif dan murah pada saat itu. Entahlah sekarang, masih musim enggak pakai jarkom :p

Nah, dalam rantai jarkom kelompok studio, saya menjadi anggota yang berada di urutan paling akhir. Seharusnya sih enak ya, karena enggak perlu mengirim SMS ke anggota lain. Tapi apesnya, teman yang seharusnya mengirim SMS pada saya, lebih sering melalaikan tugasnya. Kadang karena enggak ada pulsa atau karena memang lupa.

Suatu waktu di siang hari yang santai karena ujian akhir semester sudah selesai, sahabat saya menelepon untuk menanyakan posisi saya. "Lia udah sampai mana? Fotonya udah mau mulai." Hah? Foto? Sekarang? Sebelumnya, memang ada wacana untuk foto bersama kelompok studio, tapi saya enggak tau kalau foto studionya hari itu! Gara-gara jarkomnya enggak sampai ke saya, hiks….

Pilihannya hanya dua, teman-teman studio menunggu saya datang dulu yang pastinya enggak sebentar karena rumah saya yang berada jauh dari pusat kota, mana pakai angkot, mana macet, mana sayanya belum mandi pula :p, atau saya merelakan diri untuk enggak ikut foto. Huft! Rasanya kesel banget terancam enggak eksis gara-gara kudet. Akhirnya teman yang bertugas menyampaikan SMS pada saya, meminjam motor teman lain dan menjemput saya sebagai bentuk pertanggungjawaban sekaligus permintaan maafnya. Alhamdulillah akhirnya bisa tetap eksis walaupun kudet, hihihi….

Zaman sudah berganti, teknologi sudah semakin canggih, berbagi informasi pun menjadi sangat mudah. Apalagi sekarang ini, berbagai aplikasi media sosial bisa diakses secara mobile. Teman saya yang sudah menjadi dosen, biasa mengumumkan tugas atau jadwal bimbingan melalui blog. Kalau mau reuni sama teman-teman sekolah, tinggal bikin event di Facebook. Kabar teman yang akan menikah atau baru melahirkan pun bisa dengan mudah diketahui melalui grup di BBM atau Whatsapp. Lalu, apa dengan begitu, otomatis bisa terhindar dari kudet? Belum tentu juga sih. Apalagi kalau aplikasi-aplikasinya jarang dicek, tetap aja bakal kudet :p

Tapi, kalau pakai Nokia Lumia, dijamin deh enggak akan kudet. Soalnya, Nokia Lumia ini mempunyai fitur keren yang namanya Live Tiles. Kita bisa mengetahui berbagai update dari aplikasi-aplikasi media sosial, email, situs berita, atau apapun yang sudah kita pin. Jadi, kita enggak perlu buka satu per satu aplikasinya, karena semua update sudah muncul di homescreen. Asyik kan? Apalagi tampilannya bisa diatur sesuai dengan keinginan kita, baik ukurannya maupun warnanya. Unik banget jadinya. 

Live Tiles (Sumber)
Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan aplikasi People Hub. Ini bukan phonebook biasa. Saat kita memilih salah satu nama kontak, yang akan muncul bukan hanya nomor telepon dan alamat email-nya, namun juga berbagai update media sosialnya. Apabila kita pin nama kontak atau grup tertentu, maka update media sosial, email terbaru, atau apapun yang terkait dengan kontak tersebut akan muncul di homescreen melalui fitur Live Tiles. Kalau sudah begini, enggak ada ceritanya deh, kita bakal ketinggalan informasi. 

People Hub (Sumber)
Gimana? Enggak mau kudet? Makanya pakai Nokia Lumia ;)

~~~

Artikel ini diikutsertakan #Honestly Giveaway: Jangan Kudet, Dong!

Read more >>

Jun 29, 2014

Ikut Serta Dalam Pengendalian TB, Yuk!

Sumber
Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang mematikan. Tetapi, TB bisa disembuhkan, asalkan penderita TB mendapatkan pengobatan secara memadai. Sayangnya, sampai sekarang, setiap tahunnya, masih terdapat sepertiga kasus TB yang belum terjangkau atau tidak mendapatkan pengobatan.

Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Di antaranya:
  • Penderita TB, merasa tidak perlu memeriksakan dirinya, sehingga akhirnya tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Bisa terjadi karena kurangnya informasi dan pengetahuan mengenai TB, karena faktor ekonomi, atau karena adanya perasaan malu dan rendah diri.
  • Penderita TB tidak bisa memeriksakan dirinya dan tidak bisa mendapatkan pengobatan yang memadai. Bisa terjadi karena tidak adanya fasilitas kesehatan, atau karena lingkungan yang terisolasi sehingga sulit untuk mengakses fasilitas kesehatan.
  • Penderita TB memeriksakan dirinya, namun tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Bisa terjadi karena kurangnya kemampuan petugas kesehatan untuk mendeteksi penyakit tersebut, atau karena hasil tes laboratorium yang tidak akurat.
Sumber
Sebagai kemitraan berskala internasional, WHO dan Stop TB Partnership, sedang mengupayakan kampanye untuk menjangkau sepertiga kasus TB yang belum tertangani tersebut. Yaitu:
  • Find. Penderita TB harus ditemukan, karena apabila dibiarkan, penyakit tersebut bisa menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi, bahkan bisa menyebabkan kematian yang tentu akan menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang lebih tinggi.
  • Treat. Penderita TB harus mendapat penanganan, karena apabila tidak, seorang penderita TB dapat menularkan penyakitnya pada sepuluh orang setiap tahunnya.
  • Cure. Dengan penanganan yang tepat, diharapkan seluruh penderita TB bisa sembuh.
Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk mendukung keberhasilan kampanye tersebut? Tentu saja kita tidak perlu mengambil pusing soal fasilitas dan tenaga kesehatan. Biarlah hal itu menjadi urusan Kementerian Kesehatan. Namun bukan berarti kita harus diam saja. Kenapa? Pertama, karena kita tidak ingin kan kita sendiri atau orang-orang terdekat kita terpapar TB? Kedua, karena kita mempunyai hati nurani. Tidak mungkin kan kita membiarkan TB ini terus menjadi masalah utama masyarakat Indonesia? 

Tapi bagaimana caranya? Kita dapat memulainya dari hal yang paling mudah. Yaitu:
  • Learn. Bagi kita yang memiliki akses terhadap informasi yang tidak terbatas, dapat memanfaatkan hal tersebut untuk mencari segala informasi yang benar tentang TB. Mulai dari penyebabnya, gejalanya, penularannya, hingga pengobatannya. Semua itu bisa didapatkan dari buku misalnya Buku Pintar TB, internet misalnya website TB Indonesia, brosur, seminar, workshop, dan lain-lain.
  • Share. Kita dapat membagikan informasi tentang TB yang sudah kita serap, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Kita bisa mulai dengan berbagi informasi di lingkungan dan komunitas sekitar kita, atau bisa juga berbagi informasi sesuai dengan kesenangan masing-masing. Misalnya, bagi yang senang menggambar bisa membuat poster, bagi yang senang menulis bisa membuat artikel di blog dan media cetak, atau bagi yang senang eksis bisa membagikannya melalui media sosial.
  • Action. Kita juga bisa berbuat lebih jauh dengan melakukan tindakan langsung turun ke lapangan dan menjadi kader TB. Misalnya dengan bergabung dalam Jaringan Peduli Tuberkulosis Indonesia (Japeti) atau Komunitas Peduli TB di daerah masing-masing. Komunitas tersebut tidak hanya berusaha untuk menjangkau sepertiga kasus TB yang belum ditemukan, tetapi juga menjangkau kasus TB pada kelompok rentan karena bekerjasama dengan berbagai komunitas seperti LSM HIV-AIDS, LSM anak, dan lain-lain.
Dok. Pribadi
Melalui tulisan ini saya mengajak setiap pembaca untuk ikut serta dalam penanggulan TB. Iya kamu, kamu, dan kamu. Sesuai dengan kemampuannya, apapun bentuknya. Kalau bukan kita, siapa lagi? :)


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition: Temukan dan Sembuhkan Pasien TB
(Serial 7: Peran Masyarakat dalam Pengendalian TB)


Read more >>

Jun 28, 2014

Untuk Kita, Mah…

Zaman masih ABG, saya sering sekali bertengkar dengan ibu saya (Mamah). Itu karena kami sama-sama keras kepala. Istilah Sundanya sih, pakeukeuh-keukeuh, hihihi…. Selain keras kepala (yang untungnya sekarang ini sudah bermetamorfosis menjadi sama-sama mencoba untuk saling mengerti), masih banyak kesamaan kami yang lain. Salah satunya kesamaan hobi.

Menari
Ketika SMA, saya memilih tari sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Tahun kedua, kegiatan tari yang saya jalani semakin padat. Selain karena menjadi pengurus, juga karena banyak event yang kami ikuti (baik kompetisi ataupun pentas biasa). Menjelang pentas, latihan pun semakin intensif. Setiap hari, dan bisa sampai malam, bahkan pagi.

Tentu saja, kegiatan tersebut membuat Mamah khawatir. Beliau melarang saya untuk menari lagi, karena takut mengganggu waktu belajar saya. Walaupun saya tidak menghiraukan larangannya (dan berjanji baru akan tidak aktif lagi di ekskul tari apabila sudah masuk tahun ketiga), namun tetap saja saya merasa sedih, merasa hobi saya tidak didukung.

Kenyataan yang mencengangkan, saya ketahui ketika pelatih tari bercerita bahwa dia pernah bertemu dengan teman kerja Mamah dalam sebuah pesta. Dari teman kerja Mamah, pelatih tari saya mengetahui bahwa Mamah sering bercerita (tentunya dengan ekspresi bangga) tentang saya dan kegiatan tari saya. Rasanya terharu mengetahui bahwa sebenarnya Mamah bangga pada saya. Larangannya hanya bentuk kekhawatiran orang tua pada anaknya. Kekhawatiran yang tidak terbukti, karena setelah lulus dari SMA, saya diterima kuliah di institut teknologi di Bandung (dan lagi-lagi memilih tari sebagai kegiatan lain di kampus) :p

Beberapa waktu yang lalu, Mamah pernah bercerita bahwa waktu masih gadis, beliau juga sempat berangan-angan untuk menjadi penari. Sayang, hobinya tersebut tidak tersalurkan, karena Mamah hanya berani menari sendiri di dalam kamar. Nah, sebulan setelah menikah dengan Papah, sepulang dari menonton Flash Dance di bioskop, Mamah menari-nari sendiri di dalam kamar, namun setelahnya langsung mual dan pusing. Ternyata mualnya bukan karena menari, tetapi karena sudah ada saya di dalam kandungannya, hohoho…. Wajar kan kalau saya hobi menari juga (walaupun sekarang saya juga sudah pensiun menari) ;) 

Menulis
Sebagai lulusan Sastra Inggris, Mamah juga hobi menulis. Dulu, Mamah pernah membuat tulisan dan mengirimnya ke media cetak, tetapi tidak ada yang berhasil dimuat. Mamah juga pernah bercita-cita untuk menyusun sebuah buku, tetapi sampai sekarang belum tercapai. Sekarang ini Mamah bekerja di Bagian Humas dan selalu menulis laporan perjalanan untuk ditayangkan di website kantor. Lumayan lah, setidaknya hobinya bisa sedikit tersalurkan :D

Meskipun baru beberapa tahun ini saya mulai menekuni hobi menulis (sejak Jav lahir dan saya berhenti bekerja), namun beberapa cerpen saya sudah pernah diterbitkan dalam buku antologi (semoga suatu saat bisa menerbitkan novel…). Selain itu beberapa tulisan saya juga sudah pernah dimuat di media cetak.

Prestasi yang tidak seberapa. Namun saya berjanji untuk terus mengembangkan hobi ini. Selain sebagai sarana untuk berekspresi, saya juga ingin mempersembahkan pencapaian yang saya dapatkan dari hobi menulis ini untuk Mamah…. Demi hobi saya sendiri…. Juga demi hobi Mamah yang belum sempat tersalurkan….

Saya - Mamah - Jav (Dok. Pribadi)
Psssttt.... Meskipun belum bisa disebut hobi, tapi saya dan Mamah senang liburan bersama. Bahkan, kami pernah berharap bisa mencoba wisata pesiar mewah atau camping dengan fasilitas ala hotel hihihi....

~~~

Tulisan ini diikutsertakan dalam "3rd Giveaway : Tanakita - Hobi dan Keluarga".


Read more >>