Saturday, May 18, 2013

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under : , ,
Sumber
Hujan deras. Aku segera berlindung di bawah atap toko yang berjejer di pinggir jalan. Bagi sebagian orang, hujan berarti rezeki, tapi tidak bagiku. Bagaimana mungkin koranku dapat habis terjual saat hujan deras seperti ini. Ya Tuhan. Lagi-lagi aku tidak dapat memenuhi janjiku pada Lila untuk membelikannya seragam sekolah.

Pandanganku mengarah pada seorang wanita yang sedang berteduh tidak jauh dari tempatku berdiri. Pakaiannya rapi, wanginya harum, dan perhiasannya banyak. Dia sedang menelepon seseorang. Tiba-tiba sebuah ide melintas di dalam pikiranku. 

Semuanya terjadi begitu cepat. Dengan gerakan tidak terduga, aku merebut ponsel wanita itu dan segera berlari. Wanita itu berteriak, membuat semua orang yang sedang berteduh mengejarku. Aku mempercepat lariku, menembus hujan dan menyeberang jalan tanpa memperhatikan bahwa sebuah mobil sedang mengebut ke arahku. Brak!

.....

"Bang! Bang!" wanita itu memanggilku.

Aku segera tersadar dari lamunanku. Ya Tuhan. Apa yang barusan kupikirkan?

"Beli korannya, semua ya." katanya sambil mengangsurkan selembar uang seratus ribu padaku.

"Semua?" tanyaku ragu sambil menerima uangnya.

"Iya, buat penutup kepala, saya enggak bawa payung." jawabnya.

"Tapi saya enggak punya uang kembalian." kataku sambil menyerahkan semua koranku.

"Ambil aja kembaliannya. Saya buru-buru!" katanya sambil meninggalkanku.

Ya Tuhan. Terima kasih atas rezeki darimu yang tidak terduga ini. 

~~~~~

197/200 kata


Friday, May 17, 2013

Tua

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under : ,
Sayangku, bila kelak kau menyaksikan perubahan diriku, saat aku jadi tua dan pengantuk, dan keriput, dan jelek, dan batuk-batuk, dan sakit-sakitan, dan kantung mataku semakin membesar dan hitam, dan penglihatanku tak awas lagi, dan rambutku dimakan uban, dan gigiku ompong, apakah kau masih akan tetap mencintaiku? (Fahd Djibran, Yang Galau Yang Meracau)
Jika kamu melontarkan pertanyaan itu padaku, jujur aku tidak tahu jawabannya. Tenang dulu sayang, bukan berarti aku meragukan keberlangsungan perasaan cintaku padamu. Aku mencintaimu kini dan nanti. Hanya saja aku tidak tau apakah ketika saat itu tiba, aku pun sudah tua dan lemah atau mungkin sudah tiada.

Namun apabila aku diberi kesempatan menyaksikan perubahan dirimu, saat kamu jadi tua dan pengantuk, dan keriput, dan jelek, dan batuk-batuk, dan sakit-sakitan, dan kantung matamu semakin membesar dan hitam, dan penglihatanmu tak awas lagi, dan rambutmu dimakan uban, dan gigimu ompong. Maka aku bersyukur kepada Tuhan karena telah mengabulkan harapanku, yaitu menua bersamamu.

Sumber
~~~~~

Untuk Lampu Bohlam: Prompt #11 Tua

Thursday, May 16, 2013

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under :
Setiap Idul Fitri, tante saya yang memiliki suami asal Jambi selalu menyediakan masubah di rumahnya. Kue ini mirip dengan kue asal Palembang, mungkin karena sama-sama berasal dari daerah Sumatera Selatan. Namanya pun bermacam-macam, ada yang menyebut masuba, masubah, maksuba, sama saja. Cara penyajiannya, kue ini dipotong kecil-kecil karena rasanya yang sangat manis.

Saya sangat suka masubah. Dulu waktu masih kecil, saya betah sekali duduk di ruang tamu rumah tante dan menghabiskan beberapa potong masubah. Sekarang saya sudah dewasa, harus jaga image dong hihihi. Maka saya pun makan secukupnya saja.

Beberapa waktu yang lalu, saya ingin sekali makan masubah. Duh, masa sih harus menunggu Idul Fitri. Saya juga enggak tau, bisa mendapatkan masubah ini di mana di Kota Bandung. Saya pun langsung mencari resepnya di Mbah Google. Ternyata bahan utamanya sangat simple, hanya telur, gula, dan susu kental manis. Yang enggak simple itu cara bikinnya, ribet lapis per lapis hehehe. Membuat saya maju mundur untuk mencoba membuatnya.

Sampai akhirnya saya menemukan bahwa IDFB Challenge bulan ini yaitu kue berlapis. Akhirnya saya berkeyakinan bahwa inilah saatnya saya mencoba membuat masubah. Semangat! Saya pun memilih menggunakan resep ibu mertua Mba Ruri (almh) yang asli dari Palembang.

Bahan:
  • 20 btr telur bebek (saya pakai telur ayam)
  • 1 kaleng susu kental manis
  • 100 gram margarin cair
  • 6 sdm tepung terigu
  • 1 kg gula pasir (saya pakai 500 gr saja)
  • 1 sdt garam
  • 1 sdt essens pisang (enggak punya, diganti dengan vanilli bubuk)

Cara membuat:
  • Siapkan loyang ukuran 22 x 22 cm, olesi bagian bawahnya dengan mentega, lapisi kertas baking, olesi lagi dengan mentega.
  • Campurkan gula dan telur lalu aduk sampai gula larut. Bisa menggunakan whisker atau hand mixer dengan kecepatan paling rendah. Lalu saring.
  • Masukkan tepung terigu, garam, susu kental manis, margarin, dan vanilli bubuk. Lalu aduk hingga rata.
  • Tuang adonan lapis pertama ke dalam loyang dan panggang adonan dengan sistem seperti memanggang lapis legit. Apabila permukaannya sudah berwarna kecoklatan, keluarkan dari oven. Tusuk gelembungnya dengan tusuk gigi atau garpu, lalu ratakan dengan alat untuk meratakan adonan lapis legit yang telah diolesi mentega. Tuang lagi adonannya. Tiga lapis pertama menggunakan api bawah lalu pindah api atas. Apabila adonan sudah habis, gunakan api bawah kembali untuk mematangkan semuanya.

Sesuai dengan judulnya, saya lumayan tersiksa saat membuat masubah ini. Wangi adonan yang sedang dipanggang sungguh menggoda dan menerbitkan air liur, sementara proses pembuatannya masih sangat lama karena harus dipanggang lapis per lapis.

Hasilnya? Membuat saya lebih tersiksa lagi. Berantakan huhuhu. Ini memang salah saya, pemula kok nekat bikin kue berlapis hahaha. Maka dengan ini saya menyatakan bahwa hasil karya saya ini tidak layak untuk ikut IDFB Challenge. Mana kemampuan food photography-nya juga malu-maluin :))

Sumber: dok. pribadi
Tapi jangan salah, walau penampilannya kurang cantik, namun rasanya dapet banget. Manis dan legit. Hmmm puas deh. Cuma ya itu, saya harus latihan lagi belajar memanggang lapis per lapis. Pantas harga kue ini cenderung mahal. Membuatnya memerlukan teknik, ketelitian, dan kesabaran tingkat tinggi. Fiuh!

Wednesday, May 15, 2013

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under : ,
Udah hari Rabu lagi ternyata :D Karena ngiler sama buku inceran Mba Astrid di WW minggu yang lalu, jadi inilah buku inceran saya minggu ini.


And the Mountains Echoed
by Khaled Hosseini
Khaled Hosseini is one of the most widely read and beloved novelists in the world. His novels have sold more than 38 million copies worldwide. Now, six years after A Thousand Splendid Suns debuted at #1, spending fourteen consecutive weeks at #1 and nearly a full year on the hardcover list, Hosseini returns with a book that is broader in scope and setting than anything he’s ever written before.
A multigenerational-family story revolving around brothers and sisters, it is an emotional, provocative, and unforgettable novel about how we love, how we take care of one another, and how the choices we make resonate through generations. With profound wisdom, insight and compassion, Hosseini demonstrates once again his deeply felt understanding of the bonds that define us and shape our lives—and of what it means to be human.

Huhuhu enggak sabar pengen bisa dapetin bukunya. Soalnya saya suka banget sama dua buku sebelumnya sampai nangis-nangis waktu baca bukunya, enggak peduli lagi di angkot & banyak yang ngeliatin :))

Apa Wishful Wednesday-mu minggu ini?

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under : , ,
Sumber: dok. pribadi
Detail Buku
Penerbit: Diva Press
Penyusun: Bintang Berkisah
Ukuran: 13.5 x 20.5 cm
Tebal: 374 cm
Cetakan: I (Januari 2013)
ISBN: 9786027640559
Harga: Rp 45.000

Sinopsis
Serangkaian surat cinta dikirimkan oleh Ramu kepada seorang wanita teman masa kecilnya, tiga puluh tahun silam, Kisha. Dalam surat-surat tersebut, Ramu mengungkapkan kenangan-kenangannya tentang cinta terpendamnya, kisah perjalanan hidupnya, serta pemikirannya dalam menghadapi setiap warna yang tertoreh dalam hidupnya.
Suratnya dimulai dengan cerita tentang kenangan masa kecil yang Ramu dan Kisha habiskan bersama di sebuah kampung kecil. Dalam surat itu, Ramu mengungkapkan perasaan cintanya yang diawali oleh rasa persahabatan. Sayang, kebersamaan keduanya harus berakhir saat Ramu dan keluarganya pindah ke kota gara-gara ayah Ramu terlilit utang.
Dalam surat itu pun Ramu menceritakan kehidupannya selepas meninggalkan kampung halamannya. Berbagai peristiwa pahit mengiringi perjalanan hidupnya. Kehilangan ayah, terpaksa putus kuliah untuk menghidupi keluarga. Lantas, ibunya meninggal. Tak lama kemudian, anak semata wayangnya, Raihan, pun menyusul setelah terserang demam berdarah. Tak ketinggalan kehidupan rumah tangganya lambat laun kandas.
Sungguh, sebuah kisah melodramatik yang demikian menyentuh. Dan, surat-surat ini dikirimkan Ramu untuk Kisha, seminggu sebelum hukuman mati dilaksanakan.
Pertanyaannya: siapakah sebenarnya sosok Ramu hingga membuat dirinya divonis hukuman seberat itu? Lalu, bagaimanakah nasib Kisha menghadapi kenyataan demikian?
Review
Malas, itulah kesan awal saya saat membaca judul buku ini. Pertama, karena saya membayangkan bahwa buku berisi kumpulan surat cinta ini akan dipenuhi ungkapan-ungkapan cinta dengan bahasa sastra tingkat tinggi yang sulit saya pahami seperti karya-karya Kahlil Gibran atau Paulo Coelho. Kedua, karena berbentuk monolog, saya pasti akan bosan membacanya. Namun untungnya, penulis buku ini -@bintangberkisah- memberikan sneak preview bab pertama-nya, sehingga saya dapat mengintip dulu surat pertama dalam buku ini. Setelah membaca surat pertama, ternyata kesan awal saya terhadap buku ini salah. Akhirnya saya pun tidak ragu untuk membeli bukunya agar dapat membaca surat-surat berikutnya.

Jatuh cinta, itulah yang saya rasakan saat melihat buku ini. Gambar tumpukan amplop-amplop surat yang diikat dengan pita berwarna merah tampak begitu klasik dan membuat sampul depan buku ini terlihat manis. Saya juga menyukai desain layout bagian dalamnya. Sebuah gambar amplop di setiap judul bab dan sebuah hiasan minimalis di setiap halaman membuat buku ini menjadi semakin cantik.
Teruntuk Kisha yang kurindukan siang malam.
Aku menduga bahwa engkau sedikit kaget karena sekonyong-konyong menerima surat dari yang kau pikir adalah orang asing. Padahal, kita pernah saling mengenal, Kisha. Apakah kau masih mengingatku? Jika sudah benar-benar lupa, dengan senang hati aku akan mengingatkanmu - jika kau tak keberatan. (Halaman 9)
Begitulah kalimat-kalimat pembuka yang dituliskan Ramu pada surat pertamanya untuk Kisha. Surat pertama sampai surat keenam memang berisi cerita Ramu tentang kenangannya bersama Kisha. Mulai dari perkenalan mereka, kisah persahabatan mereka, rasa cinta sekaligus cemburu Ramu pada Kisha yang selama ini terpendam, hingga akhirnya masalah keluarga Ramu yang menyebabkan mereka harus berpisah. Sungguh, saya merasa iri pada Kisha karena begitu dalamnya cinta Ramu sehingga bisa menceritakan perasaannya di masa lalu dengan sangat detail.

Surat-surat ini membuat saya tergelitik dan tersenyum karena ikut merasakan serunya sekaligus mirisnya cinta pertama (atau mungkin cinta monyet) yang dirasakan oleh Ramu. Meskipun cinta itu berasal dari seorang Ramu kecil yang masih berusia belasan tahun, namun saya sangat menikmati setiap gejolak perasaan yang disampaikan oleh Ramu. Menurut saya, penulis buku ini telah membuat surat cinta dengan kalimat-kalimat yang mengalir dan sangat manis. Perbendaharaan kosakatanya pun luas, jauh dari kata membosankan. Termasuk saat Ramu digambarkan merasakan sedih yang tak terkira karena harus pindah ke kota bersama keluarganya dan meninggalkan Kisha.
Hidupku ke depan masih teramat panjang. Pada saatnya nanti, tiba-tiba aku sudah duduk di salah satu kursi roller coaster kehidupan yang siap meluncur deras. Ternyata apa yang kurasakan saat perpisahan itu hanyalah permulaan. (halaman 140)
Ternyata perpisahannya dengan Kisha adalah awal dari pahitnya kehidupan yang dijalani Ramu. Pada awalnya, semua memang terlihat lebih baik. Kondisi ekonomi keluarga Ramu yang membaik, prestasi akademis Ramu yang menonjol, serta perubahan fisik Ramu menjadi pria yang gagah dan tampan. Ramu pun akhirnya menemukan seorang wanita dan menjalin hubungan asrama dengannya, namun kebahagiaan itu berubah seratus delapan puluh derajat semenjak wanita itu meninggalkan Ramu tanpa alasan yang jelas. Keadaan semakin memburuk saat ayah Ramu terlibat suatu masalah besar dan tidak lama kemudian meninggal.

Syukurlah Ramu akhirnya mendapatkan pekerjaan, menikah dan mempunyai anak. Namun rupanya lagi-lagi Ramu harus berduka. Ibu yang sangat disayanginya meninggal, dan tidak lama kemudian anaknya yang masih balita pun meninggal. Membuat Ramu akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan istrinya.

Lagi-lagi penulis buku ini membuat perasaan saya bagaikan diaduk-aduk. Naik turunnya kondisi kehidupan Ramu terasa nyata dan begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari. Untungnya kali ini penulis menggambarkan Ramu sebagai sosok yang lebih dewasa dan tegar.
Dalam keramaian dunia yang hiruk pikuk, betapa sepi yang sedang kurasakan. Lukaku telah sedemikian lengkap. Namun, satu hikmah besar yang kudapat saat sedang dirundung duka dan kesendirian. Aku menjadi semakin dekat dengan Tuhan. Aku tak lagi memiliki sekutu dan pengalihan selain hanya berserah kepada-Nya. (halaman 292-293)
Cerita yang dituliskan Ramu di beberapa surat terakhirnya membuat saya terkejut. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa kedekatan Ramu dengan Tuhan-Nya membuat dia memutuskan untuk pergi ke Palestina. Setelah kembali ke tanah air, berkat uang yang dipinjami kenalannya di Palestina, usaha konveksi yang dirintisnya pun berhasil. Sayangnya kebencian Ramu pada koruptor telah membuatnya terjebak pada perbuatan kriminal berat dan akhirnya divonis hukuman mati.

Sejak awal, saya menyadari bahwa penulis buku ini tidak hanya ingin mengangkat cerita cinta dalam bukunya. Persahabatan, hubungan orang tua dan anak, percintaan, dan pencarian jati diri semuanya terangkum dalam tujuh belas surat ini. Tetapi saya merasa sedikit terganggu dengan cerita di bagian akhir buku ini. Menurut saya, terasa agak dipaksakan. Namun ini hanya masalah selera.

Secara keseluruhan, saya mengacungi jempol untuk karya perdana penulis buku ini. @bintangberkisah tidak hanya berhasil membuat perasaan saya hanyut dalam rangkaian kisah perjalanan hidup seorang Ramu, namun juga telah membuat saya merenung karena banyak sekali pelajaran hidup yang disisipkan dalam buku ini tanpa terkesan menceramahi.

Rating
Saya memberikan empat dari lima bintang untuk buku ini.

Tuesday, May 14, 2013

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under : ,
Samar-samar, aku mendengar seseorang menangis. Aku segera bangun dari tidurku. Pukul dua dini hari. Itu suara Ibu, aku yakin sekali. Tapi kenapa? Aku menajamkan pendengaranku berusaha mengetahui apa yang terjadi.

"Sudahlah Bu. Nanti kita beli lagi yang baru. Uangnya kan sudah ada."

"Bukan masalah uangnya Pak. Tapi cincin itu kan satu-satunya kenangan dari almarhumah ibuku."

"Iya ini salah Bapak. Seandainya Bapak tidak pulang terlambat, Ibu tentu tidak perlu menggadaikan cincin itu."

"Yang salah itu pegawainya Koh Ahong, cincin gadai kok malah dijual! Belum juga sebulan!"

Sumber
Oh, ternyata itu masalahnya. Tentang cincin yang digadaikan Ibu untuk membayar hutang kontrakan. Waktu itu aku yang mengantar Ibu ke toko emas milik Koh Ahong. Ibu sangat menyayangi cincin itu. Meskipun sempat ragu, tapi akhirnya Ibu menggadaikan satu-satunya benda berharga yang dimilikinya dengan harapan dapat segera menebusnya. Pantas tadi pagi Ibu pulang dengan wajah lesu, rupanya cincin kesayangannya sudah dijual pada orang lain.

~~~

"Bapak ini bercandanya keterlaluan ya!" kata Ibu saat keluar dari kamar.

"Apa maksudnya Bu?" tanya Bapak tidak mengerti.

"Ternyata Bapak yang menebus cincin Ibu ya?" tanya Ibu sambil memperlihatkan cincin kesayangannya dengan wajah berseri.

"Loh Bapak tidak tahu apa-apa." jawab Bapak.

"Ternyata bapakmu romantis juga ya Ra." kata Ibu sambil tersenyum padaku lalu kembali ke kamarnya, meninggalkan Bapak yang tampak kebingungan.

~~~

Plak! "Ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk mencuri!" Ibu tiba-tiba muncul di kamarku dan menamparku.

Aku tidak sanggup menatap mata Ibu.

"Tega-teganya kamu merusak hubungan baik Ibu dengan Bu Broto hanya demi cincin itu! Ibu memang hanya seorang buruh cuci di rumah Bu Broto, tapi Ibu masih punya harga diri! Ibu sakit hati saat Mawar mencaci maki Ibu karena telah mencuri perhiasan miliknya." kata Ibu, matanya mulai berkaca-kaca.

"Tapi itu cincin kesayangan Ibu." jawabku membela diri.

"Cincin itu bukan milik Ibu lagi, Ibu sudah berusaha mengikhlaskannya." kata Ibu sambil terisak.

"Tapi Dara tidak mencurinya." kataku.

"Rupanya selain pencuri, kamu pembohong juga ya!" kata Ibu, tangannya siap menamparku lagi.

Tok! Tok! Tok! Mendengar ada yang datang, ibu segera keluar dari kamarku sambil menghapus air matanya.

"Bu Broto."

"Bu Ninin. Saya minta maaf atas kesalahpahaman tadi. Melihat cincin baru Mawar, Dara cerita pada saya bahwa cincin itu adalah cincin kesayangan yang Bu Ninin gadaikan ke toko Koh Ahong, makanya saya berikan cincin itu pada Dara. Sebagai gantinya, saya minta bantuan Dara untuk menjadi pembimbing Melati sampai ujian selesai. Mawar tidak tahu kalau cincinnya sudah saya berikan pada Dara."

Setelah itu masih kudengar Bu Broto berkali-kali meminta maaf pada Ibu atas kesalahpahaman putri sulungnya. Fiuh! Aku bernafas lega. Tanganku memainkan sebuah kalung yang melingkar manis di leherku, kalung yang sempat kucuri dari meja rias Mba Mawar.

~~~~~

430/500 kata

Saturday, May 11, 2013

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under : ,
Beberapa hari yang lalu, saya sempat liat postingan tag berantai di blognya para anggota BBI. Eh, ternyata hari ini saya kebagian juga dapet tag dari temen di MFF, Mba Sri Sugiarti. Langsung aja deh saya jawab.

1. Nambah atau ngurangin buku?
Nambah dong...

2. Pinjam atau beli buku?
Beli, supaya bisa dibaca berulang-ulang. Meskipun sampai sekarang belum sempat sih baca ulang buku-buku lama.

3. Baca buku atau nonton film?
Dua-duanya :)

4. Beli buku online atau offline?
Offline. Wangi toko buku itu enak banget! Tapi sekarang ini lebih sering beli buku online.

5. Buku bajakan atau ori?
Ori. Memang ada yah buku bajakan?

6. Gratisan atau diskonan?
Kalau bisa gratis kenapa harus bayar hihihi.

7. Beli pre-order atau menanti dengan sabar?
Menanti dengan sabar aja, kecuali kalau pre-ordernya dapet diskon 90% hahaha.

8. Buku asing (terjemahan) atau lokal?
Dua-duanya :)

9. Pembatas buku penting atau biasa saja?
Penting.

10. Bookmarks atau bungkus chiki?
Ini maksudnya buat pembatas buku kah? Ya bookmarks dong. Kalau engga ada bookmarks masih banyak kok barang lain yang bisa dijadiin pembatas buku selain bungkus chiki seperti kartu pos, bon belanja, daun kering, foto suami ;)

Pertanyaan tambahan:

1. Nulis fiksi atau nonfiksi?
Lagi belajar dua-duanya :)

2. Buat nemenin nulis: minuman atau cemilan?
Enggak dua-duanya. Nanti bikin enggak konsen, malah konsen ngemil :p

3. Nulis di laptop atau gadget lain?
Handphone, bisa kapan aja dan sambil tidur-tiduran. Kalau buka laptop siang-siang suka digangguin Jav :D

4. Nulis siang atau malam?
Tergantung kondisi.

5. Aku cantik atau enggak?
Semua perempuan itu cantik :)

Pertanyaan tambahan dari Mbak Helda:

1. Nulis buku atau ngeblog?
Pengen dua-duanya :)

2. Karya FF yang pernah dibuat, kebanyakan pengalaman pribadi atau orang lain?
Pengalaman pribadi yang didramatisasi hihihi.

3. Baca buku atau BW?
Dua-duanya :)

4. Buku-buku terbitan Harlequin atau buku karangan JK Rowling?
Ahaha, dua-duanya saya belum baca. Enggak gaul yah? Biarin :p

5. Terdampar di laut atau terdampar di hutan?
Terdampar di hatimu :))

Pertanyaan tambahan dari Mba Sri:

1. Sarapan roti atau nasi?
Ronde 1 sarapan nasi, ronde 2 sarapan roti, ditambah ronde 3 juga oke...

2. Buku tentang cinta atau kriminal?
Yang ringan-ringan aja, cinta.

3. Pilih naik bus atau delman?
Delman, apalagi ditambah angin sepoi-sepoi.

4. Pilih teman bawel atau pendiam?
Bawel, supaya saya enggak mati gaya.

5. Kopdaran atau online?
Sementara ini online dulu. Jangankan kopdaran, ketemuan sama teman di dunia nyata aja jarang.

Nah, sekarang saya nge-tag siapa yah? Hmmm, siapa aja yang mau silakan jawab pertanyaan-pertanyaan di atas di blog masing-masing yah hehehe. Met tidur semuanya :)

Thursday, May 9, 2013

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under : ,
Teeettt! Sebuah suara yang memekakkan telinga berbunyi setelah aku memencet tombol kecil di sebelah pintu gerbang rumah ini. Beberapa saat kemudian seorang pria berkaos polo dan bercelana jeans keluar dari rumah dan membukakan pintu gerbang untukku.

"Temannya Wisnu ya?" pria itu mengulurkan tangannya padaku.

"Iya, Robi." jawabku sambil menjabat tangannya.

"Gue Andre, manajer di sini. Yuk langsung masuk aja." ajaknya. 

Aku pun mengikutinya masuk ke dalam rumah.

"Sorry gue tinggal dulu sebentar yah, lagi ada telepon dari klien. Lo duduk aja dulu. Oiya, sorry berantakan, maklum cowok semua." kata Andre sambil tersenyum lebar.

Aku membalas senyumnya dengan sopan. Setelah Andre berlalu, pandanganku menyisir seluruh ruang tamu rumah ini. Memang berantakan sekali. Bungkus makanan, puntung rokok, pakaian, dan barang-barang lain memenuhi meja dan menutupi sofa. Tanganku menyapu barang-barang di sofa ke satu sisi agar aku dapat duduk di sisi lainnya.

Credit
Aku terkejut saat aku secara tak sengaja menyenggol sesuatu yang besar dan menyembul.

Astaga! Konde? Tapi, siapa yang pakai konde di rumah ini? 

"Oke, kita langsung wawancara aja ya." kata Andre ketika muncul kembali dan duduk di hadapanku.

"Oke. Ini CV gue." kataku sambil menyerahkan sebuah map kepada Andre.

Andre langsung membaca isinya. "Wah prestasi lo lumayan juga yah."

Aku mengangguk sopan.

"Pengalaman lo udah berapa tahun?" tanyanya.

"Mmm sekitar tiga tahun." jawabku.

"Kalau gitu gue enggak perlu meragukan kemampuan lo." kata Andre sambil tersenyum padaku.

Perasaan lega menghampiriku. Jika aku berhasil mendapatkan pekerjaan freelance ini berarti aku bisa mendapatkan uang saku tambahan, karena uang kiriman dari Ibu hanya cukup untuk biaya kuliah.

"Tapi sesuai prosedur, gue tetap harus ngeliat action lo dulu." kata Andre sambil berdiri.

"Siap." kataku dengan percaya diri.

Andre pun mengajakku ke sebuah ruangan yang lebih luas, salah satu sisinya ditempeli sebuah cermin besar. Aku langsung mengambil posisi di tengah ruangan, sementara Andre mempersiapkan musik di pojok ruangan.

Oh Mickey
You're so fine
You're so fine
You blow my mind
Hey Mickey! Hey! Hey!
Hey Mickey! Hey! Hey!

Heh? Kok lagu ini? Keningku mengkerut.

"Ups! Sorry!" kata Andre sambil mematikan musiknya.

Fiuh! Aku membuang nafas, lega.

"Supaya lebih oke, pakai properti ya." Andre meninggalkanku. Beberapa saat kemudian dia kembali sambil membawa konde yang tadi sempat kutemukan dan menyerahkannya padaku.

Aku melihat Andre dengan tatapan tidak mengerti.

"Selain pakai wig, kami juga suka pakai konde, topi, bervariasi. Supaya penonton enggak jenuh dan beda sama pom pom boys lain." kata Andre sambil menjepitkan konde itu secara asal di kepalaku, lalu memainkan musiknya kembali.

Oh Mickey
You're so fine
You're so fine
You blow my mind
Hey Mickey! Hey! Hey!
Hey Mickey! Hey! Hey!

Aku tidak bergerak dan menatap bayanganku di cermin dengan perasaan tak menentu. Sialan lo Wisnu! Gue tuh nyari kerjaan freelance sebagai hip hop dancer! Bukan pom pom boys!

~~~~~

Ditulis dalam rangka menjawab tantangan Monday Flashfiction: Prompt #12 Konde.

Wednesday, May 8, 2013

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under : ,
Hore! Hari Rabu! Ini buku incaran saya minggu ini.

Berjuta Rasanya
oleh Tere Liye
Sinopsis:
Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan.
Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan.
Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa dia akan sempat membacanya.
Semoga datanglah pemahaman baik itu. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita, tidak peduli sesederhana apapun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik.
Kenapa?
1. Saya sedang ingin membaca yang manis-manis
2. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, sebagai penggemar Tere Liye, saya malu karena belum membaca semua karyanya. Apalagi, Insha Allah awal bulan Juni nanti saya akan bertemu Tere Liye di Yogya. Yippie! :)

Apa Wishful Wednesday-mu minggu ini?

Tuesday, May 7, 2013

Posted by Nathalia Diana Pitaloka | File under : , ,
Saya benci pada orang yang hobi datang terlambat. Ketika masih SMA, saya pernah membuat janji dengan seorang teman untuk bertemu di depan sebuah komplek perumahan. Rencananya kami akan mengerjakan tugas kelompok di rumah teman kami yang lain yang berada di komplek perumahan itu. Lima menit... Sepuluh menit... Lima belas menit saya menunggu di pinggir jalan, tapi teman yang ditunggu belum muncul juga. Saya langsung menelepon ke rumahnya melalui telepon umum. Dan saya sangat terkejut saat mengetahui bahwa teman yang saya tunggu-tunggu itu baru bangun tidur. Apa??!! Saya yang ketika itu terkenal kalem dan anggun pun kehilangan kontrol lalu menangis sambil mengamuk dan mencaci maki teman saya itu. Memang teman saya itu sering terlambat datang ke sekolah, tetapi saya tidak menyangka dia juga tega membiarkan saya berdiri menunggunya di pinggir jalan seperti orang bodoh. Apa dia tidak mengenal teknologi yang disebut jam weker??? Sungguh perilaku yang tidak bertanggungjawab. Saya merasa telah dikhianati. 

Ternyata kehidupan setelah SMA, lebih parah lagi. Terlambat sepertinya bukan perilaku yang tidak bertanggungjawab, namun sudah dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Entah sudah berapa ratus kali saya datang tepat waktu untuk mengerjakan tugas kelompok, rapat himpunan, dan latihan menari, namun kegiatan-kegiatan tersebut tidak dapat segera dimulai karena masih menunggu teman yang terlambat. Entah sudah berapa puluh kali saya datang terburu-buru dan agak terlambat untuk mengerjakan tugas kelompok, rapat himpunan, dan latihan menari, namun ternyata ketika saya sampai kegiatan-kegiatan tersebut belum juga dimulai karena masih menunggu teman yang lebih terlambat dari saya.

Saya tidak mengerti. Saya yang tinggal nun jauh dari kampus, selalu berusaha untuk datang tepat waktu. Tetapi kenapa teman-teman yang tinggal sangat dekat dengan kampus selalu datang seenaknya dan menyia-nyiakan waktu saya teman-teman lain. Kalau terlambat sekali-kali ya dapat dimaklum lah, tapi kalau menjadi kebiasaan, sungguh menyebalkan. Terlambat dimulai, tentu menyebabkan terlambat selesai. Padahal selain kegiatan kampus, saya juga punya acara lain dengan teman-teman saya, keluarga saya, dan pacar saya (ehemm..). 

Teman-teman saya itu bukan hanya hobi datang terlambat, mengerjakan tugas pun selalu nyaris terlambat. Pernah suatu sore saya datang ke kampus dengan mata yang mengantuk dan kepala yang pusing karena tidak tidur demi selesainya tugas tapak yang harus dikumpulkan hari itu. Setelah mengumpulkan tugas, impian saya untuk segera pulang dan tidur harus kandas karena atas nama kebersamaan dan solidaritas, saya membantu mengerjakan tugas teman yang belum selesai. 

Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, karena masih berada di lingkungan yang sama, saya mendapati bahwa dunia bekerja pun tidak jauh berbeda dengan dunia kuliah. Suram. Saya selalu dirugikan. Nasib baik tidak pernah berpihak pada orang yang tepat waktu seperti saya. 

Bahkan setelah berhenti bekerja pun bukan berarti saya bebas tidak berurusan lagi dengan orang-orang yang hobi terlambat. Dokter yang tidak pernah datang tepat waktu atau penjahit yang belum menyelesaikan pesanan saya padahal bajunya akan dipakai tiga jam lagi.

Selama nasib baik selalu menyertai mereka yang hobi terlambat, tidak ada yang dapat saya perbuat kecuali menyiasatinya. Daripada mengomel menunggu dokter yang tidak kunjung datang, lebih baik datang satu jam lebih lambat dari waktu yang sudah ditentukan. Daripada deg-degan menanti baju yang belum selesai dijahit, lebih baik sedikit berbohong mengatakan bahwa bajunya akan dipakai dan harus selesai seminggu lebih cepat dari waktu yang sebenarnya.

Bagi orang-orang yang hobi terlambat, tolong hargailah waktu orang-orang di sekitar kalian. Bagi orang-orang yang selalu dirugikan oleh orang-orang yang hobi terlambat, mari kita doakan semoga penyakit mereka bisa sembuh.

Terima kasih untuk Mba Latree atas prompt-nya minggu ini (meskipun sedikit terlambat), sehingga saya bisa mengeluarkan uneg-uneg saya hihihi.

~~~~~

Untuk Lampu Bohlam: Prompt #10 Terlambat